Lakukan Demo Mahasiswa Lanny Jaya Desak  Aparat Keamanan Ditarik Dari Pirime

 

JAYAPURA – Meski dihalang aparat Kepolisian Polres Kota Jayapura ratusan mahasiswa dan masyarakat Lanny Jaya melakukan aksi demonstrasi di Asrama Lanny Jaya, meminta secara tegas kepada angota TNI organik maupun non organik di daerah Pirime, Bugukgona, Ayumnati, dan Awina Kabupaten Lanny Jaya segera ditarik.

Ratusan masa dengan membawa sejumlah baliho bertuliskan ” Segera tarik pasukan organik dan non organik di Distirk Pirime, Bugukgona, Ayumnati dan Awina berlangusung aman.

Keterwakilan mahasiwa Dulius Wanimbo mengaku bahwa adiknya dan keluargganya sendiri mengalami ancaman dengan kehadirian aparat di Pirime.

“Adik saya telepon dia bilang kaka saya mau ke sekolah, tapi mama bilang jangan ke sekolah dulu karena ada aparat keamanan nanti mereka bisa tembak sembarang,” katanya meniru perkataan adikrnya di HP, maka dirinya meminta aparat tidak membuat ketakutan kepada keluarganya di Pirime.

“Jadi, aparat ini membuat masyarakat kami trauma, maka ini jangan dipikir – pikir panjang lagi, jadi ini harus segera ditarik aparat jangan buat kami semaikin marah jadi segera tarik aparat disana,” tegasnya lagi.

Koordinator Lapangan (Korlap) Herdinus Wanimbo mengatakan, mereka sudah memasukan surat izin aksi pada jumat 18 oktober 2018 namun ditolak dengan alasan tema aksi bertentangan.

“Setelah pihak kepolisian melarang, Kami masukan surat yang ke dua pada tanggal sabtu 19 Oktober 2018 di terima oleh pihak kepolisian. Namun, tanggal pada hari senin tangg 21 Oktober 2018 polisi yang di pimpin langsung oleh kasat intel masuk ke asrama menghadang kami,” katanya di asrama Lany Jaya, Senin, (21/10).

Herdinus Wanimbo mengatakan, tujuan mereka menyampaikan aspirasinya ke kantor dprp. Tapi persis pada pukul 8.50 WIT polisi datang ke halaman asrma mahasiswa lany jaya melarang kami aksi ke dprp.

“Kami sangat kesal dengan pihak kepolisan. Mereka terlalu berlebihan sampai masuk ke asrama kami. Kami di hadang dengan alasan tema aksi kami,” katanya.

Sementara itu Kaapolres Kota Jayapura Gutav Urbinas mengatakan,  kami bekerja sesuai dengan undang undang nomor 9 tahun 1998 dinyatakan tidak memenuhi sayarat untuk menyampaikan aspirasi di muka umum

“Kami sudah sampaikan secara tertulis juga kepada mahasiswa lany jaya untuk di patuhi, kalau kami tidak awasi adik-adik ini akan memaksakan diri, pastikan bahwa pelaksanaan undang undang, kalau tidak bisa dilakukan aktivitas tolong di patuhi,” katanya.

Gustav mengatakan, waktu yang lain bisa dikaji apa yang tidak memenuhi syarat, pihak kepolisan bagian mengeluarkan surat. Melalui mekanisme yang benar dalam jangka waktu yang benar,  batas memasukan surat minimal tiga hari sebelum kegiatan berlangsung.

“Kedepan kami berharap mereka harus memenuhi undang undang, yang ada tidak melakukan kesalahan kesalahan yang dilakukannya,” katanya.

Sementara itu Anggota Komisi V DPR Papua, Nioluen Kotouki saat bertemu langsung dan menerima aspirasi para mahasiswa yang tidak diberikan izin Nioluen mengaku kecewa pantaran pendemo tidak diberikan izin ke Gedung DPRP Papua  karena aparat telah melarang hak menyampaikan pendapat di muka umum terkait permasalahan yang terjadi di Lanny Jaya.

“Kami kecewa dengan sikap aparat inikan adik – adik mau sampaikan aspirasi mereka kepada kami DPRP, dan ini bukan tidakkan melawan negara mereka ingin menyampaikan aspirasi mereka kepada kami, maka saya harap Pak Kapolres jangan menghalangi kebebasan berbendapat,” katanya.

Ia juga mengatakan dalam waktu dekat terkait kasus ini, dirinya dan beberapa anggota DPR Papua akan melakukan kunjungan langsung ke distrik Pirime terkait adanya trauma dan juga ketakutan warga dan anak sekolah sehingga tidak melakukan proses belajar mengajar.

“Kami dari Komisi V DPR Papua yang membidangi pendidikan dalam satu dua minggu ini kami akan cek didaerah Pirime, karena banyak anak – anak sekolah yang tidak ke sekolah, karena takut dengan aparat, mereka ini generasi bangsa maka aparat jangan membuat mereka takut silahkan jalankan tugas, tapi jangan buat mereka takut ke sekolah dan masyarakat juga takut ke Kebun,” tegasnya, (Mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *