40an Mahasiswa Di Palu Minta Dipulangkan Ke Papua

 

JAYAPURA – Sedikitnya 40an lebih mahasiwa asli papua, yang berada di lokasi pusat Gempa bumi dan Tsunami di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tangah melakukan pengungsian di wilayah pegunungan, berharap kembali ke daerah asal Papua.

Salah satu korban bencana Ekiles Kogoya melalui sambungan telepon selulernya  kepada media ini mengatakan, secara keseluruhan mahasiswa ada 41 orang, namun  yang lain berangkat ke Poso, tapi ada kabar mereka masih disana nanti tiba di Makasar hari senin mengunakan bus.

“Jadi kita yang masih disini ada 32 orang dari dua asrama, tapi ini hanya mahasiswa yang ada 30 orang, lainya yang kerja disini kami belum tau, kami Mahasiwa dari Jayapura, Jayawijaya, yang paling banyak mahasiwa Nduga, Paniai, Nabire, Sarmi, Sorong, Fak – fak, Merauke dan papua lainya.

Sementara itu, untuk makan sehari – hari pada saat awal terjadi bencana mahasiswa bersama seluruh masyarakat yang berlarian ke daerah gunung mengalami kesulitan makan selama beberapa hari sehingga harus menahan lapar dan haus.

“Untuk makan dan minum sejak awal kejadian tangal (28/9) kami keluar lari kearah gunung itu kami selama beberapa hari kami tidak makan, minum dan mandi sampe kita membuat posko di hutan, bersama masyarakat Palu lainya, dan kemarin baru kami mendapa bantuan, dapat aqua, cemilan, mie satu karton dan snek, juga mendapat beras tapi tidak bisa masak karena tidak ada air dan alat masak,” pungkasnya.

Ia menjelaskan untuk lokasi asrama yang ditingali masih jau, maka hanya terkena dampak dari gempa sehingga jatuh dan roboh.

“Saat lari keluar hanya satu orang yang terluka, atas nama Kalen Gwijangge, korban yang meningal ada dua orang untuk orang papua, tapi itu bukan mahasiswa mereka adalah angota TNI AL, dan Polisi, karena pemukiman aparat dipingir pantai dari Papua barat, dan mahasiswa semua selamat namun barang – barang kami yang rusak,” akuinya.

Untuk itu, dirinya berharap adanya perhatian serius dari pemerintah provinsi kabupaten/kota karena mahasiswa harus pulang ke Papua.

“Kami minta bantuan kepada pemda Papua dan kabupaten, kami harus keluar dari tempat ini, karena lampu mati dan fasilitas kampus semua hancur, maka kami mohon sekali kepada pemda agar kami keluar dari kota Palu,” kata Kogoya.

Disingung soal Aktifitas perkulianan ia mengatakan untuk kulia mahasiwa mengaku ada informasi dari kementrian terkait bahwa mahasiswa akan di terimah di mana saja tanpa tes.

“Namun Bupati dan Rektor berharap kami tidak pinda karena semester tahun ini kita akan naikan langsung, dan berikutnya kita akan lanjud seperti biasanya maka kami akan pulang ke Papua sampai pulih baru kami balik,” sautnya.

Ia menambahkan dirinya dan mahasiwa lainnya berkomunikasi kepada orang tua setelah listrik dan jaringan aktif, maka dirinya berharap agar keluargga terus mendukung dalam doa.

Sebelumnya, terjadi Gempa dan Tsunami, menghantam kawasan pantai Talise, Kota Palu dengan ketinggian hingga 1,5 meter akibat gempa berkekuatan 7,7 pada skala Richter yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, hingga  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nasional merilis data korban genpa dan Tsunami menjadi 1.558 orang. Korban berasal dari Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah.(mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *