Gereja Harus Berubah Tanpa Meningalkan Prinsip Alkitabia 

 

Para hamba Tuhan saat mengikuti materi yang disampaikan, Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat, Persekutuan Gereja – Gereja Baptis Papua, (BPP- PGBP) Pendeta Dr Socrates Sofyan Yoman MA pada pembukaan sekolah alkitab Norman Sheila Draiper (NORMSHED) Cabang Wamena, di Gereja Baptis Bahtera  belum lama ini.
JAYAPURA – Semakin majunya erah informasih dan teknologi Gereja diharapkan untuk ikut berubah, tanpa merubah ajaran Firman Tuhan dan prinsip gerja yang sesunguhnya.
Hal ini dikatakan, Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat, Persekutuan Gereja – Gereka Baptis Papua, (BPP- PGBP) Pendeta Dr Socrates Sofyan Yoman Pendeta Dr Sokrates Sofian Yoman saat ditemui wartawan di Jayapura.  Penegasan tersebut dirinya katakatan, pada pembukaan dan kulia umum sekolah alkitab Norman Sheila Draiper (NORMSHED) Cabang Wamena di Gereja  Baptis Bahtera  Wamena, yang dibuka oleh dirinya sendiri belum lama ini.
“Dengan melihat ada pergumulan di dalam Persekutuan Gereja Baptis Papua, gereja mesti sadar bahwa sekarang dengan tantangan erah sekarang yang terus berubah dan semakin maju,  maka gereja juga harus berubah tampa harus menghilangkan ajaran firman Tuhan dan prinsip gereja,”  kata Dr Yoman di Jayapura, Sabtu, (7/7).
Dikatakan untuk menjadi gereja kuat dan melindungi umat Tuhan serta bisa bersaing dengan dunia itu harus dibentuk disekolah theologia yang kuat dan terus berubah dengan zaman, namun tidak merubah prinsip alkitabia.
“Setelah saya renungkan output dari  Sekolah Teolagia Bapatis tidak ada perkembangan, yang seharunya dia (Pendeta) hadir sebagai garam dan agen perubahan dengan memberikan pengutan firman, motifasi dan dia menerjemahkan injil ini dengan konteks yang nyata,” kata Yoman.
Dengan milihat ini Yoman mengatakan, dirinya berupayah membuka sekolah STT Baptis di maksud mengunakan nama Norman Sheila Draiper sebagai misonaris pertama di Tiom pada  28 oktober  1986 maka penamaan ini, sebagai penghormatan di buka sekolah STT pada  9 februasi 2012.
Sehingga ini akan merangkul beberapa siswa dari STT Baptis di Kotaraja dengan berkomit pada sejarah Bapatis dan prinsip firman Tuhan.
Tidak hanya itu, kata Yoman, dengan Gelar Doktornya dirinya juga membuka S2  dengan pelajaran yang mengunakan konteks Papua.
“Konteks iman kristiani dengan nasionaliame kami , jadi kami tidak bisa tempatkan sejarah Amerika dan Indonesia disini. Karena Baptis itu otonom karena ini suda ada sejak lama sehingga kita kembali ke warisan iman yang harus dijaga dan tidak bisa hilang,
dengan berdiri pada landasan firman Allah dan sejarah Baptis,” ujarnya.
Ia mengatakan alasan lain, pemerintah suda melemahkan sekolan Teolagi  di papua dengan akreditasi sehingga sekolah ini tidak akan memakai akreditasi, tetapi akan benar – benar menyatu dengan masyarakat papua dan otonom.
“Sehingga tangal 4 juli di wamena di progra non gelar bagi para gembal yang suda lama ini kita memberikan penyegarana, dengan beberapa wilayah di Lanny jaya dengan pengajar adalah mereka yang suda S2 dengan pengajaran roh yang sama,,” pingkasnya, (mar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *